Minggu, 28 November 2010

Pengertian Karangan Narasi

Narasi merupakan bentuk percakapan atau tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman nmanusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu (Semi, 2003:29).

Narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca tentang suatu peristiwa yang telah terjadi (Keraf, 2000:136). Dari dua pengertian yang diungkapkan oleh Atarsemi dan Keraf. Dapat kita ketahui bahwa narasi berusaha menjawab sebuah proses yang terjadi tentang pengalaman atau peristiwa manusia dan dijelaskan dengan rinci berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu.

Narasi adalah suati karangan yang biasanya dihubung0hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu sebuah karangan narasi atau paragraf narasinya hanya kita temukan dalam novel. Cerpen, atau hikayat (Zaenal Arifin dan Amran Tasai, 2002:130). Narasi adalah karangan kisahan yang memaparkan terjadinya sesuatu peristiwa, baik peristiwa kenyataan, maupun peristiwa rekaan (Rusyana, 1982:2).

Dari pendapat- pendapat di atas, dapat diketahui ada beberapa halyang berkaitan dengan narasi. Hal tersebut meliputi: 1.) berbentuk cerita atau kisahan, 2.) menonjolkan pelaku, 3.) menurut perkembangan dari waktu ke waktu, 4.) disusun secara sistematis.

2. Ciri-ciri Karangan Narasi

Menurut Keraf (2000:136)

- Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.

- dirangkai dalam urutan waktu.

- berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi?

- ada konfiks.

Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronlogis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:

- Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis.

- Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.

- Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik.

- Memiliki nilai estetika.

- Menekankan susunan secara kronologis.

Ciri yang dikemikakan Keraf memiliki persamaan dengan Atar Semi, bahwa narasi memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu dan memiliki konfiks. Perbedaannya, Keraf lebih memilih ciri yang menonjolkan pelaku.

3. Tujuan menulis karangan narasi secara fundamental yaitu:

1.) Hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan,

2.) memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.

4. Langkah-langkah menulis karangan narasi

1.) Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan

2.) tetapkan sasaran pembaca kita

3.) rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur

4.) bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita

5.) Rincian peristia-peristiwa uatama ke dalam detail-detail peristiwasebagai pendukung cerita

6.) susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.

5. Jenis-jenis Karangan Narasi

a. Narasi Ekspositorik (Narasi Teknis)


Narasi Ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya, satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini atay sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositprik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsursugestif atau bersifat objektif.

b. Narasi Sugestif

Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat
http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/03/karangan-narasi-dengan-segala-macamnya.html

Narasi
Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.
• Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
• Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
• Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba.[rujukan?]
1. (What) Apa yang akan diceritakan,
2. (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya,
3. (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
4. (Who) Siapa pelaku ceritanya,
5. (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan
6. (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.
[sunting] Contoh
Contoh narasi berisi fakta:
Ir. Soekarno
Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah.
Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.
Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.
Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang.
Contoh narasi fiksi:
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.
[sunting]
http://id.wikipedia.org/wiki/Karangan

KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF NARATIF DENGAN MENGGUNAKAN GAMBAR BERSERI PADA SISWA KELAS VI SD GULANG 1 KECAMATAN MEJOBO KABUPATEN KUDUS
Dwiningsih, Efna (2008) KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF NARATIF DENGAN MENGGUNAKAN GAMBAR BERSERI PADA SISWA KELAS VI SD GULANG 1 KECAMATAN MEJOBO KABUPATEN KUDUS. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PDF
Restricted to Repository staff only
447Kb
Image view: http://viewer.eprints.ums.ac.id/archive/etd/126
Abstract
Paragraf naratif dengan menggunakan gambar berseri dapat membantu siswa dapat mengembangkan imajinasinya dalam menyusun sebuah cerita sesuai dengan gambar yang digunakan dalam pengajaran menulis tersebut. Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui kamampuan siswa mengemas peristiwa ke dalam paragraf naratif berdasarkan gambar berseri; (2) untuk mengetahui kamampuan siswa menyusun paragraf naratif berdasarkan urutan gambar berseri; (3) untuk mengetahui kamampuan siswa mengembangkan dialog ke dalam paragraf naratif berdasarkan gambar berseri. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif yang datanya bersumber dari karangan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah tes subyektif. Dalam tes ini siswa diberikan sebuah gambar berseri yang terdiri dari empat buah gambar. Selanjutnya siswa diminta untuk menyusun ke dalam paragraf naratif berdasarkan gambar tersebut. Teknik pengumpulan data juga menggunakan teknik simak dan teknik catat. Teknik simak adalah menyimak penggunaan bahasa. Teknik catat adalah pencatatan terhadap data dan dilanjutkan dengan klasifikasi kata-kata dengan alat tulis tertentu. Teknik analisis data yang digunakan yakni teknik padan dan teknik pilah penentu sebagai pembeda referen. Hasil yang diperoleh dari penelitian yang berjudul ”Kemampuan Menulis Paragraf Naratif Dengan Menggunakan Gambar Berseri Pada Siswa Kelas VI SD Gulang 1 Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus”: (1) berdasarkan kemampuan siswa mengemas peristiwa ke dalam paragraf naratif dapat disimpulkan bahwa keseluruhan siswa dalam memberikan informasi terhadap gambar berseri memunculkan peristiwa pada paragraf pertama dan paragraf kedua. Pada paragraf tersebut menyebutkan penyebab peristiwa sampai akibat yang ditimbulkan dari paragraf tersebut; (2) berdasarkan kemampuan siswa menyusun paragraf naratif dengan urutan gambar berseri dapat disimpulkan bahwa siswa mempunyai beragam pola urutan meliputi: (a) pola urutan 1 – 2 – 3 – 4, (b) pola urutan 1 dan 2 – 3 – 4, (c) pola urutan 1 – 2 dan 3 – 4; (3) berdasarkan kemampuan siswa mengembangkan dialog ke dalam paragraf naratif dapat disimpulkan bahwa dialog yang dimunculkan adalah jawaban yang bersifat langsung.
Item Type: Karya Ilmiah (Skripsi)
ID Number: A310030085
Additional Information: RAK A310-080
Uncontrolled Keywords: Paragraf, naratif, gambar berseri
Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics

Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah

ID Code: 126
Deposited By: Ari Fatmawati
Deposited On: 15 Jul 2008 12:09
Last Modified: 17 Nov 2010 20:42
http://etd.eprints.ums.ac.id/126/

contoh narasi
Ketika bangun pada hari Senin pagi, aku sangat terkejut karena melihat jam di kamar telah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Aku langsung bangun dan menuju ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi tiba-tiba aku terpeleset dan hampir saja mencederaiku.
Setelah mandi, aku berpakaian sekolah, sarapan pagi lalu berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Sesampainya di sekolah kulihat tasku untuk mengambil topi. Betapa terkejutnya aku, ternyata topiku tidak ada di dalam tas. Karena hari itu hari senin (ada upacara bendera) aku pulang ke rumah untuk mengambil topi. Selesai mengambil topi aku kembali lagi ke sekolah dengan menaiki sepeda motor. Tiba-tiba di jalan motorku mogok, setelah diperiksa ternyata bensinnya habis. Terpaksa kudorong motor untuk mencari tempat penjualan bensin eceran. Untunglah tempat penjualan bensin itu tidak jauh. Aku membeli satu liter bensin dan langsung tancap gas menuju ke sekolah.
Setibanya di sekolah ternyata murid-murid sudah berkumpul di lapangan. Upacara hampir saja dimulai. Aku pun tergesa-gesa berlari menuju ke lapangan upacara. Ketika upacara dimulai kepala sekolah langsung memberi pengarahan tentang tata tertib sekolah. Tiba-tiba datanglah seorang guru untuk memeriksa kerapian murid-muridnya, dan sialnya rambutku dinilai panjang oleh guru. Dengan leluasa serta tak kuasa kumenolak gunting yang ada digengaman guru mencabik-cabik rambutku.
Dengan rambutku yang tak karuan, aku langsung masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Rupaya pelajaran tersebut mempunyai pekerjaan rumah (PR) dan aku lupa mengerjakan tugas tersebut lalu dihukum oleh guru untuk membuat tugas itu sebanyak tiga kali.
Aku langsung mengerjakan tugas itu. Sebelum aku mengerjakannya jam pelajaran pun habis lalu aku disuruh menulis beberapa kali lipat lagi oleh guru. Ketika sedang mengerjakan tugas itu, teman-teman ribut di kelas karena jam pelajarannya kosong. Dengan senangnya teman-teman pun bermain di kelas sehingga aku pun merasa terganggu. Aku menegurnya supaya tidak ribut lagi, ternyata mereka tidak senang dan tidak terima atas teguranku. Temanku tadi langsung merobek tugas yang sedang kubuat. Aku merasa kesal dan tanpa basa-basi lagi aku langsung menghajarnya sehingga terjadilah perkelahian. Kemudian kami dipanggil wali kelas ke kantor untuk menyelesaikan masalah tersebut. Aku ceritakan masalah tersebut dan kami pun disuruh untuk bermaaf-maafan. Setelah itu kami disuruh untuk melupakan masalah tersebut, akhirnya lonceng pun berbunyi menandakan pulang sekolah. Kami pun langsung pulang ke rumah. Setibanya di rumah aku merasa senang karena permasalahan tersebut telah selesai. Aku bercerita tentang kejadian-kejadian yang aku alami di sekolah tadi dengan orang tuaku. Orang tuaku pun menasehati agar selalu mengerjakan tugas tersebut dan mentaati peraturan tata tertib yang ada di sekolah.
Ditulis dalam Karya Siswa. Tag: Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa Indonesia, Blog Indonesia, Pendidikan, Pendidikan Indonesia, Pengalaman Pribadi, Siswa, SMP Negeri 2 Banyuasin I, Tata Tertib. 16 Komentar - komentar »
Like
Be the first to like this post.
http://smpn2banyuasin1.wordpress.com/2010/02/04/contoh-karangan-narasi-siswa-sebuah-pengalaman-yang-mengesankan/

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI DALAM BAHASA INGGRIS MELALUI MEDIA GAMBAR BERSERI
by: Nur Arifah Drajati

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang diujikan baik di tingkat nasional maupun internasional. Tujuan dari pengajaran Bahasa Inggris di tingkat SMA adalah mempersiapkan anak didik untuk melanjutkan pendidikannya di universitas dimana mereka akan mendapatkan buku-buku referensi berbahasa Inggris, penyampaian kuliah dengan Bahasa Inggris dan penugasan penulisan laporan dalam Bahasa Inggris. Dengan pembelajaran Bahasa Inggris yang memadai, mereka diharapkan dapat mengikuti dan mencapai prestasi di bidangnya masing- masing.
Pembelajaran Bahasa Inggris mencakup empat keterampilan berbahasa, yaitu: listening atau menyimak, speaking atau berbicara, reading atau membaca, dan writing atau menulis. Keempat keterampilan berbahasa ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh anak didik untuk mendorong mereka mencapai prestasi disaat mereka duduk di bangku SMA, di bangku kuliah maupun disaat mereka sudah bekerja.
Berdasarkan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang diresmikan tahun 2006, pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SMA ditekankan pada keempat keterampilan berbahasa. Baik ujian di tingkat nasional maupun internasional, anak didik dituntut untuk bisa menguasai keempat keterampilan berbahasa ini. Ujian Nasional mencakup keterampilan menyimak dan membaca. Sedangkan untuk ujian sekolah anak didik melaksanakan ujian berbicara dan menulis. Bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, mereka harus menguasai TOEFL IBT ataupun ETS (English for Tertiary Studies). Bahkan, beberapa universitas terkemuka di Indonesia sudah mengembangkan tes yang tidak berdasarkan pilihan ganda untuk melihat secara nyata bagaimana gambaran nyata calon mahasiswanya dengan menulis Bahasa Inggris.
Berdasarkan pengamatan penulis, masih banyak siswa yang masih belum bisa menulis narasi dalam Bahasa Inggris dengan baik. Ada yang masih bingung bagaimana memulai untuk menulis, tata bahasa yang campur, tidak sistematis, dan tidak ada kesesuaian antara ide pokok dan kalimat utama atau pendukungnya. Pada kenyataannya, hanya beberapa saja yang bisa lulus tanpa harus mengulang atau menambah jam belajar Bahasa Inggris,terutama kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris sangat minim. Mereka yang bisa kuliah ke luar negeri banyak yang harus mengulang mata kuliah Bahasa Inggris bahkan 2 atau 3 kali semester. Melihat kenyataan tersebut, alangkah bijaksananya jika guru-guru Bahasa Inggris melihat dan mencoba alternatif model pembelajaran yang bisa mengantarkan anak didiknya mencapai hasil yang diharapkan dan mereka dapat mengikuti semua proses belajar dengan menyenangkan. Untuk menyiasati ketidakmampuan menulis, pemerintah telah menyusun kurikulum yang berbasis kompetensi yang disebutkan diatas yaitu KTSP yang diresmikan pada tahun 2006. Salah satu tujuan kurikulum tersebut adalah adanya praktek berbahasa yaitu siswa mampu menulis.
Beberapa faktor yang menjadi penyebab dari kesulitan siswa dalam menulis adalah dari siswa sendiri dimana mereka jarang menulis dalam Bahasa Inggris dan Guru dimana tidak memfasilitasi siswa dengan model pembelajarannya. Bagaimanapun, guru sangat berperan penting dalam proses belajar mengajar dan bertanggung jawab dalam pencapaian kemampuan menulis berbahasa Inggris.
Pengajaran pada dasarnya adalah membantu siswa dalam belajar. Adalah benar bahwa tugas siswa adalah belajar dan guru memfasilitasi dalam proses belajar. Fasilitator dapat diartikan bahwa guru membimbing siswa dalam merespon pernyataan dan membimbing siswa dalam menjawab pertanyaan. Tugas guru juga mendorong siswa untuk berpikir serius dan kreatif dalam menghadapi segala permasalahan belajar.
Model pembelajaran yang baik adalah model yang dapat membuat siswa secara aktif menggali pemecahan masalah yang dihadapi dan dapat membuat siswa mandiri meskipun pembelajaran sudah berakhir. Dengan adanya KTSP, guru direkomendasikan untuk menggunakan model pembelajaran dimana siswa dapat aktif menggunakan keterampilan berkomunikasi dan mensyaratkan guru untuk menjadi seorang inspirator dan fasilitator (Conny Semiawan dan Raka Joni, 1993). Seorang guru bukan hanya sebagai sumber belajar tetapi guru adalah seorang fasilitator yang mengarahkan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.
Kreatifitas sangat penting dalam proses belajar mengajar dalam Bahasa Inggris. Siswa akan mendapatkan pengetahuan praktis, khususnya keterampilan menulis. Pembelajaran bermakna akan tercapai jika ada peran serta siswa dalam proses belajar mengajar, berkaitan dengan pengalaman mereka dan praktek penggunaan Bahasa Inggris di kehidupan sehari-hari.
Dengan mempertimbangkan masalah dalam pencapaian pembelajaran bermakna, penulis ingin melaksanakan sebuah penelitian tindakan untuk meningkatkan kemampuan menulis narasi dalam Bahasa Inggris melalui media gambar berseri. Pembelajaran ini menggunakan empat keterampilan berbahasa yang berbasis pada kemampuan menulis. Penulis ingin meneliti apakah model pembelajaran yang digunakan dapat mencapai pembelajaran yang bermakna dalam pembelajaran menulis.
B. Tujuan
Tujuan pengajaran ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang dapat dijadikan acuan bagi pengajaran Bahasa Inggris pada umumnya dan khususnya berkaitan dengan penulisan narasi. Manfaat yang dimaksud adalah:
Tujuan Praktis
1. Penulisan ini diharapkan dapat dijadikan model pembelajaran guna meningkatkan keterampilan berbahasa, khususnya yang berkaitan dengan penulisan narasi dalam Bahasa Inggris.
2. Penulisan ini juga diharapkan dapat dijadikan acuan oleh pengajar keterampilan berbahasa dalam menentukan model pemecahan masalah yang berkaitan dengan pengajaran di kelas, khususnya penulisan narasi.
3. Diharapkan dapat menggugah siswa dalam menulis narasi dengan Bahasa Inggris.
4. Penulisan ini diharapkan pula dapat membuka wawasan siswa pada pengetahuan Bahasa Inggris khususnya tentang penggunaan kosakata, tata bahasa, dan wawasan siswa tentang model pembelajaran dengan gambar berseri.
ACUAN TEORITIS
Definisi yang menjadi acuan dalam penulisan ini meliputi kemampuan menulis, menulis narasi, dan pengajaran melalui gambar berseri.
(a) Hakikat Kemampuan Menulis
(b) Menulis Narasi
(c) Hakikat Pengajaran Menulis dengan Gambar Berseri.
a.Hakikat Kemampuan Menulis
Menulis pada hakikatnya adalah mengarang yakni memberi bentuk kepada segala sesuatu yang dipikirkan, dan melalui pikiran , segala sesuatu yang dirasakan , berupa rangkaian kata, khususnya kata tertulis yang disusun sebaik-baiknya sehingga dapat dipahami dan dipetik manfaatnya dengan mudah oleh orang yang membacanya. Penulis biasanya menuangkan apa yang ada di pikirannya dengan melibatkan perhatian para pembacanya.
Menurut Sokolik (2003) dalam Linse and Nunan (2006), menulis adalah kombinasi antara proses dan produk. Prosesnya yaitu pada saat mengumpulkan ide-ide sehingga tercipta tulisan yang dapat terbaca oleh para pembaca yang merupakan produk dari kegiatan yang dilakukan oleh penulis.
Kemampuan menulis menuntut seorang penulis untuk mampu menggunakan pola-pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan. Kemampuan menulis mencakup berbagai kemampuan, misalnya kemampuan memahami apa yang akan dikomunikasikan, penggunaan unsure-unsur bahasa, kemampuan mengorganisasi wacana dalam bentuk karangan, dan juga pemilihan gaya bahasa yang tepat.
Ada 4 jenis tulisan menurut Gillie, Susan, dan Mumford (1996), yaitu deskripsi, narasi, ekposisi dan persuasi. Deskripsi adalah penulisan dengan penggambaran obyek dengan memanfaatkan lima panca indera, yaitu penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan rasa. Fokus penulisan tergantung pada hal panca indera mana, umur pembaca dan emosi pembaca yang akan ditunjukkan kepada pembaca. Narasi adalah bercerita. Penulisan ini digunakan untuk menjelaskan suatu keadaan, melestarikan sejarah dan juga untuk menghibur pembaca. Sedangkan eksposisi adalah penulisan untuk untuk menjelaskan suatu proses atau ide-ide. Dalam penulisan ini dibutuhkan hal yang rinci tentang suatu proses ataupun penjelasan dari suatu definisi. Jenis tulisan yang keempat adalah persuasi. Jenis tulisan ini berisi untuk membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dalam proses menulis, penekanan terletak pada keseimbangan antara proses dan produk. Produk merupakan tujuan penulis dan juga merupakan alasan melalui proses pra-menulis, konsep revisi, dan tahap editing (H. Douglas Brown, 1994:344). Dengan mengikuti langkah-langkah yang jelas siswa diharapkan dapat menghasilkan tulisan yang berkualitas. Seiring pendapat dengan Brown, Joy M. Reid (1988), kegiatan menulis merupakan suatu proses dimana harus melalui beberapa tahap yaitu tahap pra penulisan, tahap penulisan, tahap perbaikan, dan tahap editing. Tahap pra penulisan adalah tahap berpikir sebelum menuliskan sesuatu. Tahap ini meliputi memahami alasan menulis, pemilihan subyek yang diminati, memperdalam subyek sehingga mendekati hal yang benar-benar diinginkan Setelah memperdalam subyek, penulis mengumpulkan ide-ide. Satu hal dalam tahap ini adalah perlu dipertimbangkannya calon pembaca yang akan membaca tulisan tersebut. Calon pembaca adalah suatu konsep yang penting untuk dapat memprediksi siapa pembaca tulisannya nanti. Untuk dapat berkomunikasi melalui tulisan, penulis harus memahami untuk siswa, anak laki-laki, anak perempuan, untuk orang tua atau bahkan tulisan tersebut adalah untuk ilmuwan. Dengan memahami calon pembacanya, penulis akan memutuskan pola bahasa yang akan digunakan dalam tulisannya sehingga pembacanya akan mudah memahaminya.
Tahap yang kedua adalah tahap penulisan dimana penulis mulai untuk mengorganisasi semua ide-ide yang ada kedalam kesatuan tulisan yang saling berkaitan. Ada tiga hal yang dilakukan dalam tahap ini, yaitu memulai dan mengakhiri tulisan dengan jelas, menuliskan suatu pernyataan atau suatu pendapat dengan jelas, dan menuliskan kalimat-kalimat dengan lancar dimana unsur koherensi dan kohesi antar paragraf harus diperhatikan. Dengan melakukan tiga hal tersebut diharapkan tulisan yang dihasilkan akan dapat menjelaskan sesuatu kepada para pembacanya. Tulisan yang berkualitas juga memiliki arti bahwa tulisan tersebut menggunakan pola pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Pendahuluan dimulai dengan tulisan yang menarik pembaca untuk mau membaca. Pendahuluan ini bertujuan untuk memberikan ide pokok kepada pembaca sehingga mereka lebih mudah dalam memahami suatu tulisan. Untuk bagian isi dari suatu tulisan bertujuan untuk menyatakan topik yang ingin disampaikan oleh penulis yang disertai dengan contoh dan gambaran dari topik tulisan tersebut. Bagian terakhir dari suatu tulisan adalah kesimpulan. Bagian ini adalah menyimpulkan hal-hal yang telah ditulis di bagian pendahuluan dan isi dengan tanpa ada pengulangan kalimat yang sama. Selain itu, di bagian ini juga berisi tentang saran-saran dan perkiraan-perkiraan yang ingin disampaikan oleh penulis. Di bagian akhir ini, penulis memiliki kesempatan untuk mengecek kembali tulisannya.
Tahap ketiga adalah tahap perbaikan. Pada tahap ini seorang penulis dapat memberikan tambahan-tambahan berupa ide dan hal-hal yang spesifik. Selain itu, penulis dapat menggunakan fakta-fakta, gambaran fisik, dan pengalaman yang dapat meningkatkan ide pokok. Disinilah penulis berkesempatan untuk berpikir bagaimana membuat tulisannya lebih menarik pembaca untuk membaca. Di dalam tahap ini pula, penulis dapat mengecek ulang apakah sudah tercapai tujuan dari suatu tulisan yang akan disampaikan oleh pembaca dengan contoh-contoh yang telah diberikan. Pada tahap perbaikan ini, seorang penulis dapat melakukan sendiri ataupun dengan rekan sejawatnya atau teman. Untuk perbaikan dengan rekan sejawat akan lebih efektif karena teman sejawat atau teman adalah orang lain atau bisa disebut dengan pembaca dari tulisan tersebut. Meskipun demikian bukan berarti semua masukan atau saran dari teman tersebut harus dilaksanakan, tetapi dapat dipertimbangkan bagi sempurnanya suatu tulisan.
Untuk tahap yang terakhir dari suatu tahap penulisan yaitu tahap keempat yang disebut dengan tahap editing, seorang penulis dapat membaca kembali, mengubah dan memperkuat tulisannya dengan mempertimbangkan kebutuhan dari calon pembacanya dan mempertimbangkan tujuan dari penulisan tersebut. Selain dua pertimbangan diatas, penulis juga dapat mengecek tata bahasa dengan mengurangi kesalahan tata bahasa, kosa kata maupun kesalahan susunan kalimat.
b. Menulis Narasi
Jenis tulisan yang menjadi acuan penulis dalam mengembangkan tulisannya, yaitu wacana narasi, Menurut Jeri, Susan, Heidy (1996: 99), narasi adalah mengarang atau menceritakan kembali. Jenis tulisan ini digunakan setiap hari untuk menjelaskan kegiatan, yang sedang terjadi maupun yang sudah berlalu, dan tujuan dari penulisan narasi adalah untuk menghibur pembacanya.
Dalam memulai menulis narasi, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu menetapkan calon pembaca tulisan narasi dan menetapkan tujuan dari penulisan narasi tersebut. Penetapan calon pembaca sangat penting untuk menetapkan pola bahasa yang akan digunakan dalam menulis narasi. Menulis narasi untuk anak-anak akan sangat berbeda dengan menulis narasi untuk remaja. Demikian juga menulis narasi untuk orang dewasa umum akan berbeda dengan menulis narasi untuk kalangan ilmuwan. Penetapan tujuan juga sangat penting sebelum menulis narasi yaitu apakah tulisan tersebut mempunyai tujuan menceritakan kehidupan sehari-hari, atau mempunyai tujuan untuk menceritakan sejarah, ataukah bertujuan untuk menghibur pembaca. Dengan adanya dua penetapan ini akan memudahkan penulis dalam menulis narasi sehingga akan menghasilkan narasi yang berkualitas.
Untuk menghasilkan tulisan narasi yang berkualitas dan bermutu, menulis narasi adalah menulis kronologi, artinya sangat memperhatikan dimana cerita itu terjadi dan kapan kejadian itu terjadi. Ada empat hal penting dalam penulisan narasi yaitu latar belakang, masalah, puncak masalah, dan penyelesaian. Latar belakang adalah hal-hal yang mendasari penulisan narasi yaitu karakter, tempat, dan waktu. Latar belakang ini akan memudahkan pembaca dalam mengikuti alur cerita. Kemudian terdapat masalah yang akan diselesaikan di akhir cerita. Masalah ini akan memuncak dan penuh dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Puncak masalah ini kemudian diikuti oleh penyelesaian masalah.
Untuk menarik pembaca, dalam menulis narasi disertai dengan hal-hal yang detail, baik karakter yang ada dalam cerita, tempat dan waktu kejadian. Selain tiga hal diatas, pola bahasa sebaiknya juga diperhatikan. Kalimat langsung dan tidak langsung (reported speech) sering digunakan dalam penulisan narasi ini. Dengan pola ini, pembaca akan dibawa penulis seolah-olah berada dalam cerita tersebut. Selain struktur kalimat diatas, kata penghubung banyak digunakan dalam menulis narasi untuk menggambarkan kejadian-kejadian yang terjadi. Kata penghubung yang sering digunakan misalnya first, then, next, later, afterwards, dan finally. Kata-kata tersebut adalah untuk memberikan tanda tentang kronologi cerita.
C. Hakeket Pengajaran Menulis dengan Media Gambar Berseri
Pengajaran pada hakekatnya adalah guru dan peserta didik saling menjelajahi bagaimana dapat berkomunikasi dalam pembelajaran. Guru memfasilitasi siswa dalam belajar dan siswa belajar sehingga mendapatkan hasil yang optimal dan berkualitas. Ada 3 prinsip pengajaran yang bahasa yang diutarakan oleh Nunan (2003 : 9-11) bahwa pengajaran yang baik adalah pertama, pengajaran yang berpusat kepada peserta didik dimana pendidik melibatkan peserta didik ke dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh adalah pendidik membuat tujuan pembelajaran yang jelas kepada peserta didik, membantu peserta didik dalam mencapai tujuan belajar, dan memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkreasi dengan penyelesaian tugas-tugas sekolah yang telah diberikan. Kedua, meningkatkan pengajaran bagi peserta didik. Hal ini berarti pendidik harus selalu mencoba hal-hal yang baru, menyimpan hasil belajar dan pembelajaran siswa, dan mengamati cara mengajar. Prinsip ketiga adalah membuat pembelajaran yang menarik yang berdasar pada tugas-tugas yang berkesinambungan. Hal ini berkaitan dengan hasil belajar yang diperoleh siswa disertai dengan memberikan feedback kepada peserta didik.
Demikian juga pengajaran menulis. Ada 4 hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik. Hal ini dikemukakan oleh Nunan (2003:92-95). Pertama adalah pendidik memahami alasan-alasan yang dikemukakan oleh peserta didik. Hal ini untuk mengurangi kesenjangan tujuan yang terjadi antara pendidik dan peserta didik. Kesenjangan tujuan ini sering terjadi dikarenakan pendidik tidak memahami alasan-alasan yang dikemukakan oleh peserta didik. Kedua, Pendidik sebaiknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menulis. Pendidik dapat memberikan variasi pengajaran menulis dengan berbagai macam tulisan, sebagai contohnya adalah menulis surat, menulis kesimpulan, menulis puisi ataupun jenis tulisan yang lain yang membuat peserta didik menikmati aktifitas menulis. Prinsip ketiga adalah memberikan umpan baik yang membantu dan bermakna bagi peserta didik. Setiap ulisan yang dihasilkan oleh peserta didik harus diberikan umpan balik yang tidak harus ditulis oleh pendidik itu sendiri tetapi bisa melalui suara yang direkam dalam tape recorder ataupun pendidik dapat memberikan kunci-kunci kesalahan dan peserta didik dapat mengoreksi sendiri hasil tulisannya. Prinsip keempat adalah menentukan klarifikasi nilai yang akan diberlakukan pada hasil tulisan peserta didik. Sering terjadi bahwa pendidik hanya mengoreksi struktur kalimat saja dan tidak menilai unsur yang lain atau bahkan peserta didik tidak tahu mengapa dia dapat 100 dan temannya mendapat 50. Disini, pendidik wajib memberikan informasi kepada peserta didik unsur-unsur bahasa yang digunakan dalam penilaian.
Pengajaran menulis besar kaitannya dengan berbagai model pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar. Ada beberapa model pengajaran menulis seperti dikemukakan oleh Linse dan Nunan (2006), yaitu menulis kelompok, berbicara dan menulis di kotak, pusat menulis, konferensi menulis, penggunaan kata-kata di papan. Dalam menulis kelompok, peserta didik belajar berkelompok dan menulis secara bergantian dan saling mengoreksi satu sama lain. Berbicara dan menulis dalam kotak bertujuan untuk dapat memberikan saran antar peserta didik dengan cara berbicara kemudian menuliskan sesuatu saran kepada peserta didik yang lain. Pusat menulis diadakan oleh guru dalam rangka memberikan tempat bagi peserta didik dengan kreasi menulisnya. Konferensi menulis adalah aktifitas dimana siswa diberikan kebebasan dalam menulis dan juga diberikan kesempatan untuk berbagi dengan temannya dan sekaligus juga diberikan kesempatan untuk mengkritik tulisan temannya dengan cara yang baik dan sopan. Papan kata-kata digunakan oleh guru untuk memberikan kata-kata kunci dalam menulis kalimat.
Pengajaran menulis dengan gambar berseri juga merupakan alternatif pembelajaran yang sangat menarik dan sangat mendidik bagi peserta didik. Hal dikemukakan oleh Davis (1997) bahwa gambar berseri sangat mendidik siswa dan akan mengarahkan mereka menuju perkembangan mental. Hal ini berhubungan dengan daya imaginasi dan kreatifitas siswa dalam menulis suatu cerita. Demikian juga dalam pengajaran. Gambar berseri akan merefleksikan bahasa dan budaya dari cerita yang disampaikan. Selain itu, melalui pengajaran dengan gambar berseri suatu cerita akan menjadi kaya dengan isi dan pengembangan karakter peserta didik.
Gambar berseri merupakan salah satu pengajaran yang menarik dan mendidik. Adapun manfaat dari pengajaran dngan media ini menurut Davis (1997) adalah pendidik dapat mengembangkan keinginan dalam belajar bahasa siswa melalui gambar berseri, memudahkan peserta didik dalam belajar bahasa, memberikan kebermaknaan belajar dengan media autentik dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat memberikan keberagaman dalam belajar bahasa dan unsur-unsur bahasa. Selain itu, dengan media berseri, siswa dapat mempraktikkan bagaimana menggunakan sinonim dan antonym, siswa dapat belajar tentan budaya dari suatu daerah, dapat belajar tentang kalimat langsung dan kalimat tidak langsung, serta dapat mengidentifikasi masalah-masalah sosial, politik, ataupun lingkungan yang terjadi di dunia.
Dalam pengajaran menulis dengan gambar berseri terdapat hal-hal yang dilarang dalam penulisan. Hal ini dikemukakan oleh Comics Magazine Association of America Comics Code, 1989 di Beatty (2004) bahwa baik kata-kata, symbol, ataupun gerakan yang berhubungan dengan cacat fisik, suatu penyakit, kesukuan, hal-hal yang berbau seks, dan kepercayaan, tidak dapat diterima sebagai suatu cerita dari gambar berseri. Demikian juga dengan aksi-aksi yang merusak moral. Pengajaran menulis dengan media gambar berseri diwarnai dengan pendidikan moral dan menghindari tindakan-tindakan amoral.
KEGIATAN
A. Penyusunan Program Pembelajaran
1. Topik : komik/gambar berseri
Tujuan :
1. untuk menggali pendapat siswa tentang kesenangannya atas gambar berseri atau komik.
2. untuk memahami tentang sejarah komik atau gambar berseri.
3. untuk memahami dan menggunakan pronoun.
Waktu : 2 X 45 menit
Kegiatan guru kegiatan siswa

1. guru bertanya komik atau gambar
berseri jenis apa yang mereka suka.

2. guru meminta siswa untuk bertanya dengan temannya tentang hal 2 tentang gambar berseri.

3. guru meminta siswa untuk membaca dalam hati dengan teknik skimming.

4. guru meminta siswa untuk menemukan ide pokok.

5. guru menjelaskan tentang pronoun.

6. guru meminta siswa untuk berlatih tentang penggunaan pronoun.

7. guru bersama siswa mengecek jawaban.


1. Siswa menjawab pertanyaan guru


2. Siswa diskusi tentang gambar berseri dalam bahasa Inggris

3. siswa membaca artikel tentang gambar berseri /komik.

4. siswa mencari ide pokok dari artikel yang dibaca.

5. siswa mendengarkan penjelasan guru.

6. siswa berlatih penggunaan pronoun.


7. siswa dengan guru mengecek jawaban.





2. Topik : komik/gambar berseri
Tujuan :
1. untuk memahami beberapa kosa kata yang berhubungan dengan gambar berseri.
2. untuk memahami tentang narasi atau cerita.
Waktu : 2 X 45 menit

Kegiatan guru kegiatan siswa

1. guru bertanya tentang kosakata yang sering muncul di komik atau gambar berseri.

2. guru menjelaskan kosakata dalam bahasa Inggris yang sering digunakan dalam gambar berseri.

3.guru menjelaskan tentang narasi.

4. guru meminta siswa menulis narasi berdasrkan pengalaman mereka.
1. Siswa menjawab pertanyaan guru


2. Siswa mendengarkan penjelasan guru.



3. Siswa mendengarkan penjelasan guru.


4. siswa berlatih menulis narasi berdasar pengalaman mereka.

3. Topik : Hero
Tujuan :
1. untuk menjelaskan tenses yang berhubungan dengan penulisan narasi.
2. untuk memahami tentang narasi secara detail
Waktu : 6 X 45 menit

Kegiatan guru kegiatan siswa

1. guru meminta siswa untuk membaca contoh-contoh narasi.

2. guru meminta siswa untuk berdiskusi secara kelompok untuk menulis cerita dengan topik hero.

3. guru menjelaskan tentang tenses yang berhubungan dengan narasi.
4. guru meminta siswa untuk membuat plot cerita.

5. guru meminta siswa mengembangkan plot ke bentuk cerita dan dialog.

6. guru memberikan penjelasan bagaimana mengembangkan narasi dengan gambar dan penggunaan komputer untuk membuat cerita lebih hidup dan bermakna.
1. Siswa membaca beberapa contoh narasi.

2. Siswa diskusi tentang cerita dengan topik hero (masing-masing kelompok 4 siswa).


3.siswa mendengarkan penjelasan guru.

4.siswa membuat plot cerita narasi.


5. siswa mengembangkan plot ke bentuk cerita dan dialog.


6. siswa mendengarkan penjelasan guru kemudian mengerjakan instruksi guru untuk mengembangkan narasi dengan gambar berseri dan menggunakan komputer agar cerita menjadi hidup dan bermakna.



B. Penilaian Hasil Pembelajaran
Penilaian hasil pembelajaran berdasarkan proses dan hasil selama siswa melaksanakan kegiatan penulisan narasi dengan media berseri.Adapun aspek dan bobot nilai yang diukur adalah:
1. portofolio (30%): segala hal yang dilakukan siswa selama pembelajaran: plot cerita, cerita (narasi), gambar-gambar asli.
2. aktifitas selama mengerjakan kegiatan penulisan narasi dengan media berseri 6 kali pertemuan (30%) faktor yang dinilai adalah kerjasama dan keaktifan masing-masing siswa.
3. hasil (40%), aspek yang dinilai adalah ketepatan waktu dan kreatifitas penulisan narasi dengan media berseri.
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Pembelajaran
Hasil pembelajaran yang terjadi adalah portofolio siswa dan hasil cerita narasi dalam CD yang akan dipresentasikan siswa di depan guru dan semua siswa. Salah satu hasil kelompok siswa adalah sebagai berikut:
B. Analisis Hasil Pembelajaran
Berdasarkan pengamatan penulis selama melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan penulisan narasi dengan media berseri, siswa dapat menghasilkan suatu narasi atau cerita yang menarik dan sangat kreatif, yang kadang-kadang penulis belum pernah membayangkan. Selain hal tersebut, siswa dapat langsung menggunakan teori narasi dan mengaplikasikan dalam suatu cerita berdasarkan imaginasi maupun pengalaman mereka. Penulis juga menanyakan kepada siswa apakah pembelajaran dengan penulisan media berseri efektif dan menyenangkan bagi mereka, siswa menjawab bahwa mereka sangat senang karena dapat mengaplikasikan dalam suatu cerita dengan memanfaatkan teknologi komputer sehingga menghasilkan sesuatu cerita yang lebih menarik.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kegiatan pembelajaran terhadap siswa SMA dengan penulisan narasi dalam bahasa Inggris dengan media berseri diperoleh kesimpulan bahwa (1) terdapat peningkatan kemampuan menulis narasi, (2) terdapat peningkatan kemampuan menulis melalui pemakaian kosa kata, tata bahasa, dan struktur kalimat, (3) terdapat peningkatan kreatifitas dalam menulis melalui gambar berseri, dan (4) terdapat peningkatan tanggung jawab dalam kerja kelompok yang masing-masing siswa saling bekerjasama dan memiliki tugas untuk menyelesaikan hasil tulisan secara tepat waktu.
B. Saran
Penulis berharap dengan adanya kegiatan penulisan narasi dengan media berseri dapat dijadikan model pembelajaran kreatif dan inovatif bagi siswa SMA sehingga akan dihasilkan lulusan SMA yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Beatty, Ken, Read and Think, Pearson, Hongkong, 2004.
comics in the classroom.net/
esl-lab.com/research/article.htm
Gillie, Jeri Wyn; Ingle, Susan; Mumford, Heidi, An Integrated Course for Nonnative Speakers of English, Mc Graw Hill, Singapore, 2001.
Linse,Caroline T, Practical English Language Teaching Young Learner, Mc Graw Hill, America, 2006.
Nunan, David, Practical English Language Teaching, Mc Graw Hill,
Singapore, 2003.
Reid, Joy M, The Process of Composition, Prentice Hall, Inc, United States of America, 1988.c
back

1 komentar: